Alodokter Tanggapi Kritik Ahli soal Aplikasi HP Bisa Diagnosis Paru



Aplikasi kesehatan Alodokter menjelaskan cara kerja teknologi ResApp yang diklaim bisa digunakan untuk mendiagnosis kondisi paru-paru seseorang. Aplikasi ResApp sempat diragukan terkait cara kerjanya.

Sebelumnya, Associate Professor SEB Telkom University Andry Alamsyah menyebut diagnosis kesehatan paru-paru yang dilakukan Alodokter menggunakan voice recognition sangat bergantung pada kualitas mikrofon yang ada di perangkatnya. Hal ini bisa menyebabkan hasil pemeriksaan menjadi tidak akurat.

Menanggapi kritik tersebut, Head of Medical Community Alodokter, Alni Magdalena mengatakan sejumlah kriteria perlu dipenuhi agar suara rekaman yang menjadi bahan diagnosis bisa diproses.


Head of Medical Community Alodokter, Alni Magdalena mengatakan hal pertama yang perlu disoroti dari penggunaan teknologi itu adalah kemampuan ponsel yang digunakan. Menurutnya tidak semua smartphone di Indonesia bisa mengakomodir teknologi diagnosis paru-paru melalui aplikasi ResApp.

"Enggak langsung di semua handphone bisa. Kalau misal [perangkat] pasiennya ga kompatibel, enggak bisa," katanya kepada CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon, Kamis (7/4).

Dikarenakan teknologi ini baru dirilis, perangkat yang sudah kompatibel masih sangat terbatas. Namun, dapat dipastikan semua perangkat yang sudah kompatibel dapat menjalankan teknologi diagnosis paru-paru ini secara optimal.

Sedangkan untuk perangkat yang belum kompatibel, Alni menyebut tombol perekam tidak akan berfungsi.


"Jadi button-nya itu abu-abu kalo enggak bisa," tuturnya.


Selain masalah kompatibilitas, ada syarat lain yang harus dipenuhi pengguna untuk memastikan hasil diagnosis dapat berjalan dengan baik, seperti suasana lingkungan perekaman yang harus tenang.

"Suasana harus tenang. Kalo suasana berisik atau segala macam, sistem akan meminta ulang," jelas Alni.

Penjelasan Alni mengenai syarat dan ketentuan penggunaan teknologi diagnosis paru ini meluruskan kritik Andry soal kemungkinan kualitas mikrofon dapat mempengaruhi akurasi diagnosis.


Ada beberapa ketentuan sebelum sebuah diagnosis dapat dihasilkan oleh Alodokter.

Lebih lanjut, proses diagnosis tidak berhenti di pengambilan sampel suara. Setelah sampel suara diambil, suara tersebut akan dikirimkan ke dokter untuk diidentifikasi lebih lanjut.

Hasil diagnosis sampel suara dari machine learning tidak langsung dikirim ke pasien, melainkan dikirim ke dokter terlebih dahulu. Sehingga keputusan mengenai diagnosis berada di tangan dokter.


"Hasil tersebut akan dikirim ke dokter untuk diidentifikasi lebih lanjut. Bukan dikirim ke pasien," kata Alni.

"Dengan ini dokter bisa memberikan diagnosis yang lebih objektif," imbuhnya.

Alni menjelaskan setiap penyakit paru-paru punya suara yang khas. Misalnya, orang yang mengidap asma akan mengeluarkan suara wheezing atau mengi dalam bahasa Indonesia. Suara tersebut khas pada orang asma akibat adanya penyempitan saluran nafas dan beberapa hal lain.


Penyakit paru-paru lain pun punya suara napas yang khas, serta suara batuk yang khas.

Elemen tersebut yang kemudian menjadi bahan machine learning yang digunakan oleh Alodokter untuk menjalankan diagnosis kondisi paru-paru lewat aplikasinya.

Teknologi ResApp bekerja sama dengan perusahaan teknologi diagnosis kesehatan digital dari Australia yang sudah lebih dulu menjalankannya. Teknologi ini diklaim mampu memberikan akurasi 87-97 persen dibandingkan dengan pemeriksaan konvensional.



Posting Komentar